Saturday, July 10, 2010

Sedikit Kegilaan Kecil (2010.06.07)

"Komandan, bagaimana keadaan di markas besar?"

........ (hening)

"Komandan, bagaimana keadaan di markas besar?"

"Terlalu banyak yang harus diselesaikan di sini."

"Lapor Komandan, mata-mata musuh menyebarkan identitas anda."

........ (hening)

"Lapor Komandan, mereka menyebarkan isu tak baik mengenai kita. Takutnya masyarakat akan terpengaruh."

........ (hening)

"Lapor Komandan, kami sudah tujuh hari tidak mendapatkan perintah dari markas. Apakah ada sesuatu yang terjadi?"

........ (hening)

"Lapor Komandan, musuh kembali menyerang. Kami akan bertahan semampunya. Apakah ada perintah lain?"

........ (hening)

"Lapor Komandan, peralatan komunikasi 1 mengalami kerusakan. Apa yang harus kami lakukan?"

........ (hening)

"Lapor Komandan, peralatan komunikasi 1 mengalami kerusakan. Kami akan memperbaikinya sesuai prosedur standar. Apa ada petunjuk lain?"

........ (hening)

"Lapor Komandan, kerusakan sudah berhasil diperbaiki. Apa gerakan kita selanjutnya?"

........ (hening)

........ (hening)

"Apakah musuh sudah berhasil dikalahkan? Rencana nomor berapa yang sedang kalian jalankan?"

........ (hening)

"Apa kau di sana?"

........ (hening)

--------------------------


Dan prajurit itupun telah kehilangan nyawanya. Tubuhnya tergeletak di atas jalan berdebu, di dekat perbatasan wilayah konsesi. Mungkin peluru tentara Inggris yang menghabisi nyawanya, mungkin juga Perancis, atau mungkin juga ia terbunuh oleh peluru dari belakang, dari seorang pengkhianat dalam pasukannya. Tak ada yang tahu.

Sungai Huangpu biru dan tenang, sama seperti bertahun-tahun yang lalu. Langit kota Shanghai sepucat awan, seperti hujan senja lalu telah melunturkan segala warnanya. Tak ada lagi pahlawan, tak ada lagi peperangan. Yang tersisa hanyalah kisah cinta yang terputus tanpa menemukan bait terakhirnya.

Friday, July 2, 2010

Antara Aku & Mereka, Cinta & Kebenaran (2010.06.28)

mereka mengatakan hitam dan putih,
aku hanya tahu warna kelabu yang tua dan yang muda

mereka meneriakkan benar dan salah,
aku hanya berkata sudut pandang dan subjektivitas

mereka percaya akan surga dan neraka,
aku hanya tahu nurani dan kesadaran pribadi

mereka menyebut tuhan dan mengejek orang lain sesudahnya,
aku hanya mengatakan fakta dan tak membawa nama siapapun

mereka mendengar ajaran dan mempercayainya,
aku hanya memandang kehidupan dan memikirkannya sendiri

mereka membicarakan empati dan belas kasihan,
aku hanya menertawakan takdir sebagai kekonyolan

mereka memandang harta dan kuasa sebagai tujuan,
aku hanya melirik hal-hal itu sebagai alat dan sarana

mereka menghitung cinta dan menilai kelayakannya,
aku hanya tahu angka 0 atau 100 untuk perasaan

mereka meminta balasan cinta dan menuntut keabadian,
aku hanya tahu memberikan apa yang ingin kuberikan

mereka menolak makanan dan minuman hambar dari kekasihnya,
aku hanya rela menelan racun dan api jika diinginkannya

mereka bilang aku tak berperasaan,
aku bilang mereka menyimpan banyak kepura-puraan

mereka bilang aku terlalu bodoh,
aku bilang mereka tak pernah benar-benar mengerti cinta

mereka bilang aku tak bertuhan,
aku bilang mereka hanya bermimpi di dalam dongeng

mereka bilang aku terlalu aneh,
aku bilang mereka tak bisa berpikir dari sudut lain

aku tidak membenci dunia,
hanya tak terlalu menyukainya,
sama seperti mereka tak terlalu mengenalku

aku tidak ingin mengasingkan diri,
hanya tak ingin menjadi sama dengan dunia,
seperti mereka tak ingin aku tetap menjadi aku

What the hell is romantism? (2010.06.09)

Apa itu romantisme? Sebagian orang berkata, itu adalah hal yang penting. Sebagian lainnya berkata, itu hanyalah impian yang tidak realistis. Sebagian pria mengatakan dirinya tidak romantis sambil terus merayu kekasihnya. Sebagian wanita tersenyum manis dan membayangkan hal yang katanya romantis, walau ia sendiri bahkan tak tahu patokannya. Yang pasti, romantisme bukanlah rumus matematika atau pengetahuan umum tentang sejarah, di mana hanya ada "tahu" dan "tidak tahu". Siapa yang terlalu pandai untuk memahaminya? Siapa pula yang terlalu bodoh untuk tidak mengerti?

Pasangan pengembara memimpikan padang rumput yang hijau dan langit biru di atasnya. Berpelukan di atas kuda sambil memandang awan, kemudian tersenyum pada gunung di ujung sana. Membisikkan cinta mereka di antara semerbak bunga musim semi. Dan biarlah angin mengabarkan kisah mereka pada rerumputan di tanah yang jauh.

Di ibu kota sana, jauh di dalam istana kerajaan. Terucap dalam doa dan air mata, sebuah impian tak tersampaikan para putri dan selir raja. Dalam hening, bersama memandang sutra merah senja dan hamparan tanah air, mengharapkan cinta yang lebih indah dari bunga api dan lebih abadi dari emas permata. Namun kepada siapa pula mereka harus berharap?

Ribuan li dari ibu kota, di perbatasan barat sana. Sepasang pejuang menghunuskan pedangnya dan menari di bawah hujaman matahari. Tak ada danau maupun bukit hijau, tak ada sungai kecil ataupun rumah bambu. Hanya satu yang ada dalam hati mereka, sehidup semati. Begitupun,mata pedang dan tombak tak pernah mengerti.

Sepasang petani tua di gunung sana. Mereka tak mengerti kerajaan maupun asap peperangan. Tertawa dan berjalan bergandengan menyusuri desa. Saat malam tiba, bersenda gurau di sekeliling meja kayu sambil menyantap sayur dari ladang mereka. Hari berganti hari, musim semi, panas, gugur, dan dingin. Menjadi keabadian yang tak terucap.

Ribuan li tanah air, ribuan tahun kehidupan manusia. Perang, perdamaian, cinta, benci, dendam, dan kehancuran. Berapa banyak kisah cinta yang terkubur di dalamnya? Berapa banyak mimpi dan pengkhianatan yang tak pernah diketahui? Apa itu romantisme? Bagaimana seorang pengembara memiliki hak untuk bercumbu di balik dinding istana? Bagaimana seorang pahlawan memiliki harapan untuk berpelukan di tepi danau musim gugur? Bagaimana para selir memiliki harapan untuk memiliki satu cintanya?

Ribuan li tanah air, ribuan tahun kehidupan manusia. Siapa yang menyembunyikan pisau dingin di balik hangat cumbunya? Siapa pula yang memendam air mata di dalam tawa dan keangkuhannya? Cinta siapa yang terukir dalam lembaran kitab sejarah? Dan kisah siapa yang akan terkubur di bawah nisan tanpa nama? Romantisme... kata yang samar dan jauh, sejauh tirai hujan di wajah setiap iblis dan manusia. Namun abadi dalam kesepiannya, tanpa kawan maupun lawan.

notitle 2010.05.10

saudaraku berkata, malam itu ada pelangi
mereka berkata, malam itu hanya ada awan

saudaraku berkata, ini adalah pemikiran tokoh yang rumit
mereka berkata, ini semua hanyalah pemikiran orang gila

tapi jika awan tak dapat menutupi kegilaan dunia,
siapa pula yang dapat mengerti pemikiran pelangi?

aku hanya tahu,
sejak malam itu, hujan tak pernah lagi berhenti
di dalam bekunya bulan, atau di bawah api matahari

gadis-gadis naif menanti di tepi jendela,
mereka percaya bahwa pelangi akan muncul setelah hujan
pria-pria bodoh memandang ke langit,
mereka percaya keadilan akan muncul menghalau awan hitam

dan aku,
ikan kecil dalam tabung berlumut
kehabisan udara dan hampir mati
tertawa akan kepolosan mereka

sebab aku tahu,
awan hitam akan menurunkan petir dan menghanguskan keadilan
dan pelangi tak akan pernah muncul untuk waktu yang sangat lama

Friday, May 7, 2010

Mimpi Sesosok Angin (2010.05.06)

Tahun itu, aku berusia 11 tahun. Belum cukup dewasa untuk memahami dunia, namun sudah tidak cukup naif untuk berharap pada siapapun. Itu adalah pertama kalinya aku mengenal benar dan salah, hukum dan keadilan, cinta, benci, juga impian. Saat gadis-gadis sebayaku masih tenggelam dalam dongeng putri salju ataupun gadis bersepatu kaca, jauh di dalam benakku.... kilau pedang dan bunga darah, asap peperangan berkejaran di antara sosok-sosok pahlawan. Aku bermimpi tentang negara, rakyat, hukum, juga keadilan. Aku bermimpi tentang pahlawan berkuda hitam, yang mengalirkan darah demi bangsanya, yang memberikan hatinya untuk dunia. Dan akupun berjanji.... setelah dewasa nanti, aku tidak akan menikah dengan petani lugu yang sederhana ataupun tuan muda keluarga kaya yang hanya tahu membaca puisi di tengah taman. Suatu hari nanti, aku harus menemukan seorang pahlawan, dan menemaninya menerjang kelamnya dunia.

Dan waktupun berlalu....

Tujuh tahun yang lalu, aku berusia 18 tahun. Belum terlalu tua untuk berfilsafat, namun sudah tak lagi berhak untuk bermimpi. Begitupun, aku telah melihat dunia. Tentang hitam, putih, dan abu-abu. Tentang istana, politik, dan tipu muslihat di dalamnya. Juga tentang istana belakang. Tak ada lagi benar dan salah dalam otakku. Dunia ini tidaklah adil, juga bukan sebatas benar dan saah. Dan saat teman-temanku sibuk tertawa dan menangis karena kekasih mereka, akupun mulai bertanya.... Jika aku berada di istana belakang, peran seperti apakah yang akan kupilih? Kaisar seperti apakah yang akan kucintai? Dan aku berjanji, jika aku berada di sana, aku tidak akan menjadi wanita siluman yang merusak negara, namun juga tak akan menjadi selir bodoh yang meneteskan air mata setiap hari menanti Kaisar.

Dan waktupun berlalu....

Pertengahan musim gugur tahun lalu, bulan bersinar dengan indah. Tarian naga dan singa di luar sana seakan tak tahu penderitaan dunia. Malam itu, kita berbincang tentang langit, tentang bumi, tentang ribuan li tanah air, juga tentang Kaisar-Kaisar dan pahlawan-pahlawan ribuan tahun. Kita tertawa di antara lembaran sejarah dan analisa gila tentang dunia. Kuingat, suatu ketika, kita pernah berbincang tentang cinta. Kau bilang, cinta itu menyakitkan, dan kau ini hanya elang liar yang akan memiliki kebebasannya sendiri, selamanya. Dan kita pun kembali tertawa. Aku sudah tak ingat lagi, berapa kali kita mengarahkan senapan pada para pengkhianat sambil tertawa. Berapa kali kita memainkan kata dan menghujat para pecundang dengan angkuhnya. Berapa kali kita dikejar dan berlari, bersembunyi, lalu kembali mengangkat pedang dan melanjutkan pertempuran. Dan malam itu.... Hahaha... Malam itu tak akan kuceritakan untuk siapapun. Biarlah itu berada jauh di luar segala sastraku. Dan kini, aku berkata.... kurasa aku tak akan sanggup bersama dengan petani lugu yang tak mengerti kebenaran dunia, atau tuan muda keluarga kaya yang hanya bisa membaca puisi cinta di taman bunga. Dan jika aku berada di istana belakang, aku tidak akan menjadi wanita siluman yang memikat Kaisar untuk melupakan negara, juga tak akan menjadi selir bodoh yang mengisi sepanjang harinya dengan air mata kerinduan.

Tuan, aku ini tak bisa memandang masa depan. Atau mungkin juga, orang seperti kita ini tidak ditakdirkan memiliki masa depan. Begitupun, aku sudah bahagia karena pernah menemani permainanmu. Suatu ketika aku pernah berpikir, bolehkah aku membuang semua kisah kepahlawanan.... demi cinta. Bolehkah aku melupakan tanah air, dan sejarah, dan asap peperangan.... demi cinta dan sebuah mimpi yang damai. Namun tak ada jawaban. Langit pucat, lautan hati tak berpusat....

Tuesday, April 27, 2010

Meracau tentang kebenaran (2010.04.09)

Biarkan aku meracau sekali lagi. Tentang langit, tentang bumi, tentang kehidupan, dan tentang kebenaran. Bertahun-tahun yang lalu, seseorang berkata bahwa di dunia ini tidak ada hitam maupun putih, yang ada hanyalah berlapis-lapis warna abu-abu yang gelap dan terang dan berbeda-beda. Setiap manusia memiliki pemikirannya sendiri, dan setiap pemikiran memiliki cara penyampaiannya sendiri. Hitam dan putih, bukankah itu hanya permainan kata-kata dan sudut pandang saja? Jika benar dan salah itu mutlak, maka itu juga hanya karena ketidakmutlakannya.

Seseorang pernah bersikeras padaku bahwa kebenaran itu mutlak. Ya, selama berjam-jam ia mengatakan padaku bahwa kebenaran itu mutlak, dengan berapi-api dan penuh percaya diri. Menurutku ia tidak salah, hanya lupa menambahkan kata "dalam lingkup dan batas tertentu" saja. Seperti halnya kebenaran yang dipercaya oleh para pemuka agama ribuan tahun lalu, bahwa bumi adalah pusat tata surya. Atau kebenaran yang diyakini sesuai dengan pemikiran filsuf kuno bahwa bumi berbentuk datar. Itukah kebenaran? Anggap saja itu bukan kebenaran. Tapi mengapa ia pernah diyakini sebagai kebenaran untuk kurun waktu yang sangat lama? Apa itu kebenaran? Apa ia masih memiliki bentuk dan eksistensi dalam perjalanan waktu dan perubahan dunia? Jika jenis kelamin seseorang pun dapat diubah dengan operasi, maka kebenaran seperti apakah yang bisa dikatakan mutlak? Begitu pula jika binatang kuda dulunya hanya sebesar anjing (kita asumsikan bahwa teori evolusi yang dikemukakan para ilmuwan adalah benar), lalu sekarang bertambah menjadi sebesar itu. Lalu kebenaran mutlak macam apa yang dapat dikatakan tentang ukuran kuda? Matahari terbit dari arah timur. Bukankah itu merupakan kebenaran mutlak? Ya, jika untuk saat ini dan dilihat dari bumi ini. Apakah pasti akan seperti itu di semua planet? Apakah masih akan seperti itu jika (kita andaikan saja) bumi mengalami perubahan dahsyat sehingga arah putarannya berbalik? Tentu saja ini hanya pengandaian yang berlebihan dan terkesan memaksa? Tapi siapa pula yang menjamin 100% itu pasti tidak akan terjadi? Kebenaran memiliki batasan. Begitu pula dengan kata "mutlak", ia juga masih perlu dipertanyakan. Mutlak dan abadi, berkaitan namun tidak selalu sejalan.

Sedangkan benar dan salah dalam fungsinya sebagai tolak ukur perbuatan atau perkataan, bukankah itu juga tak selalu mutlak dan tak selalu tidak mutlak? Aku sering berkata bahwa semua itu tidak mutlak. Ya, tentu ada alasannya. Namun dari sisi lain, misalkan saja dalam contoh 1 + 1 = 2. Ini tentu adalah mutlak dalam pelajaran matematika. Jika seorang anak SD menjawabnya 10, tentu sang guru akan menganggap jawaban itu salah. Ini adalah hal yang mutlak. Seseorang bisa saja berkata bahwa anak tersebut memiliki alasannya sendiri untuk menjawab 10. Tapi itu adalah hal yang lain lagi. Belum lagi jika sepasang kekasih mengatakan 1 + 1 = 10 dalam arti saat 2 orang bersama segalanya menjadi sempurna, tentu itu adalah hal yang bisa dibilang benar namun tidak ada hubungannya lagi. Dalam ulangan matematika ini, 1 + 1 = 10 tetaplah salah. Begitu pula jika seseorang rakyat jelata (bukan polisi atau pasukan pembasmi teroris atau sejenisnya) melakukan pembunuhan yang disengaja dan bukan untuk membela diri. Mungkin dari segi tertentu, ia akan dianggap benar jika misalnya yang dibunuhnya itu adalah orang jahat yang berbahaya. Namun dari segi hukum, membunuh tetap saja adalah salah (melanggar hukum).

Lalu sebenarnya benar dan salah itu masih ada atau tidak? Dan jika ada, apa itu mutlak atau tidak? Apa itu benar, apa itu salah? Apa itu mutlak, apa itu tidak mutlak? Siapa yang dapat mengatakannya? Di dunia ini ada seorang gadis yang dilahirkan sebagai penonton. Dan hanya berbicara atas apa yang ada dalam pandangan dan pendengarannya. Apa yang dituliskannya, mungkin tidaklah indah. Apa yang dikatakannya, mungkin tidaklah disukai. Namun hanya itulah yang sesungguhnya, yang didengar dan dilihatnya, lalu dikisahkannya.

Monday, April 12, 2010

Kakak, kaukah itu? (2010.02.12)

kakak, apa kau masih ingat?
seribu tahun yang lalu, kita menghunuskan pedang dan tertawa liar di antara ratusan musuh
mengibarkan panji-panji kerajaan serta meneriakkan kemuliaan bangsa kita di tengah ratusan gunung
aku masih mengingat semuanya dengan jelas
perbincangan mesra di bawah senja gurun pasir
juga penantian panjang di ujung lorong istana
sejak seribu tahun yang lalu pun, kita bukan sepasang kupu-kupu yang menari di antara teratai atau di tengah denting kecapi
kita ini hanya dua ekor elang liar yang kesepian
yang bertemu tanpa sengaja, dan entah untuk apa
seratus tahun yang lalu pun, kita kembali bertemu
apa kau masih ingat?
kita berlari di antara hujan peluru dan ledakan mesiu
entah sebagai pahlawan atau pemberontak
hanya saja aku sudah melupakan wajah dan namamu
dan tak tahu harus mencarimu dalam lembar kitab sejarah yang mana
kakak, kaukah itu?
yang mengayunkan pedang bersamaku seribu tahun yang lalu
yang selalu kunanti dari ujung lorong istana
yang pernah menggenggam tanganku dan berlari di tengah asap peperangan
yang selalu membincangkan puluhan ribu li tanah air di tengah kelamnya malam
kaukah itu?
aku sudah tak dapat lagi mengingat wajah dan namamu
di kehidupan ini pun, kau dilahirkan di keluarga yang mana?
hanya saja, jika kau memilih untuk melepaskan dunia, maka aku pun akan menemanimu ke ujung langit
jika kau memilih untuk melupakan kisah-kisah kepahlawanan itu, maka aku pun akan menguburnya dalam catatan kehidupan lalu
namun dalam kehidupan ini, kita akan berakhir seperti apa?

kakak, kaukah itu?

---------------------
dari tepi batas ingatan
2010.02.12

The Copasers (2010.03.30)

status hasil co-pas
notes hasil co-pas
blog hasil co-pas
ada yang sekedar lawakan (walaupun sering tidak lucu)
ada yang kata-kata kebijaksanaan (walaupun lebih banyak yang konyol dan invalid)
ada yang berupa info-info (walaupun entah benar-benar penting atau tidak)
entah mereka ini terlalu suka mengagumi kata-kata orang lain
atau hanya tak cukup kreatif untuk menulis sendiri
entah mereka ini suka belajar dari tokoh-tokoh (yang dianggapnya) bijaksana
atau cuma tak punya kemampuan untuk berpikir dengan otaknya sendiri
membuatku muak saja
bukan berarti aku tak pernah co-pas sama sekali
juga bukan berarti tulisanku pasti selalu lebih baik
tapi sungguh....
aku muak dengan mereka
dengan artikel-artikel co-pas mereka yang sudah basi
juga kalimat-kalimat kebijaksanaan mereka yang menurutku punya 100 kelemahan
mereka itu hanya benalu saja
cuma bisa menumpang pada tulisan dan pemikiran orang lain
seperti timbunan sampah yang dikerumuni lalat-lalat busuk
(kita tahu, lalat di sampah biasanya lebih banyak daripada di meja makan)

itu sebabnya, selain diriku aku hanya mencintaimu dan menyukainya saja
kau bisa memberikan informasi dengan mengolahnya dulu, tidak sekedar co-pas
ia bisa bersajak dan berkata-kata dari pikirannya sendiri, tidak sekedar co-pas
aku ini terlalu angkuh untuk memuja siapapun
dan terlalu malas untuk hidup dalam kebijaksanaan orang lain
aku hanya mau teoriku sendiri, tulisanku sendiri, sajakku sendiri, filsafatku sendiri
tapi sungguh....
kata-katamu bisa kuterima dengan segenap logika dan perasaanku
tidak perlu kudebat karena memang sudah benar
sajak-sajaknya bisa kunikmati tanpa merasa jijik ataupun bodoh
tidak perlu kucela karena memang layak baca
itu sebabnya, selain diriku aku hanya mencintaimu dan menyukainya saja

kau, iblisku (pria)
dan dia, saudaraku (wanita)

Perbincangan Dengan Iblis (2010.03.07)

“Apa yang sedang kau lakukan?“
“Memandangi hujan. Dan kau?“
“Menulis sesuatu.“
“Benarkah? Tentang apa?“
“Permainan kita.“
“Permainan kita? Apa maksudmu? Apa kita sedang bermain?“
“Menurutmu?“
“Entahlah.“
“Ini menarik sekali.“
“Apanya?“
“Tentang permainan antara iblis dan siluman. Yang satu berlagak bagai pertapa, dan yang lain bertingkah seperti gadis lugu. Mengetahui wujud asli masing-masing namun tak pernah saling mengungkap.“
“Apa yang sedang kau katakan? Kau aneh.“
“Tidak. Ayolah... kau tahu maksudku. Kita semua tidak bodoh.“
“Aku tidak tahu.“
“Baiklah. Lupakan saja kalau begitu.“
“Baiklah. Tapi, apa maksudmu kau sedang bermain denganku?“
“Ya. Tentu saja. Karena aku tak pernah mempermainkan dan tak mau dipermainkan. Itu jahat dan ironis. Maka kita hanya bisa bermain bersama saja.“
“Baiklah.“
“Eh, omong-omong, panas sekali di sini.“
“Benarkah?“
“Ya. Sudah delapan ratus tahun tak pernah turun hujan di sini. Entah apa yang dipikirkan raja naga.“
“Oh, begitu rupanya.“
“Ya. Eh, kau belum akan tidur?“
“Sebentar lagi.“
“Oh, baiklah.“

Tuesday, December 15, 2009

Untuk Cinta dan Kebencian

Dendam dan kebencian... dua bersaudara yang sering ditolak orang. Terkadang muak rasanya melihat sekumpulan orang berwajah naif yang berlagak menasehati orang lain untuk melupakan dendam dan mengobarkan cinta kasih. Apa salah dendam sehingga ia begitu dibenci? Apa pula jasa cinta hingga ia begitu diinginkan? Pada kenyataannya, dendam dapat melahirkan pahlawan. Dan cinta bisa membuat orang jadi gila. Kurasa hanya pecundang saja yang menolak dendam ataupun cinta. Ya. Pecundang kataku! Sesungguhnya mereka hanya takut diperbudak oleh dendam saja, lalu kemudian memilih cinta, dan akhirnya justru diperbudak oleh cinta. Aku tak tahu entah harus mencibir atau menghela nafas melihat orang-orang seperti ini.
Bermain dengan dendam, memaki, mengumpat, dan ingin membantai seluruh kota hingga tiga hari, lalu memalingkan wajah dan tertawa bersama cinta untuk tiga hari selanjutnya. Tersenyum, lalu mengalirkan air mata, menulis ribuan sajak cinta, dan di kala yang lain mengutuk seluruh dunia. Sesaat menjadi pahlawan, sesaat menjadi pengembara, lalu mabuk oleh cinta, dan berubah menjadi pujangga. Bukankah hidup ini menarik adanya? Seperti menuang warna merah di samping hijau, lalu menguaskan warna biru di bawahnya, juga kuning, ungu, dan hitam. Hanya pelukis bodoh saja yang mau diperbudak oleh warna, dan bukan sebaliknya.
Ah... aku jadi teringat sebagian orang lagi, yang menolak seluruh cinta dan dendam, mengejar kehampaan katanya. Mungkin mereka sedikit lebih cerdik dari orang-orang naif yang kusebut sebelumnya. Setidaknya mereka tidak diperbudak oleh keduanya. Tapi jika dipikir-pikir, bukankah ini namanya melarikan diri? Seperti pemuda di jaman perang yang tak tahu harus memihak negara mana, lalu memilih mengasingkan diri di dalam gua. Pada akhirnya ia memang tak akan terbunuh. Tapi bukankah selamanya ia tak tahu rasanya memegang tombak, meregang busur, terluka dan dilukai? Bukankah ia tak tahu rasanya negara hancur dan tak mengerti rasanya menguasai dunia?
Lima ribu tahun sejarah bergulir, perang, damai, makmur, kacau, kembali berperang lalu kembali damai. Siapa lebih kuat dari siapa, siapa menaklukkan siapa? Siapa mencintai siapa, dan siapa membenci siapa? Hidup, tertawa, menangis, tak peduli, lalu mati. Tak ada yang abadi. Manusia pun punya 7 emosi dan 6 keinginan. Mengapa tak bermain di antaranya? Memanggil dan mengusir dendam ataupun cinta sesuka hati, sengaja tenggelam di dalamnya tapi tidak untuk selamanya. Bukankah itu lebih menyenangkan?

Saturday, November 21, 2009

2009.11.21

Aku adalah aku. Bukan anak siapapun, bukan saudara siapapun, bukan teman siapapun, bukan kekasih siapapun, bukan hamba siapapun, dan bukan tuan siapapun. Aku bukan penduduk manapun, bukan anggota perkumpulan apapun, bukan warga negara manapun, bukan pemeluk agama apapun, dan bukan dari etnis apapun. Aku tidak tinggal di dunia, dan bukan bagian dari alam manapun. Aku berpikir hanya dengan otakku, hidup hanya dengan jalanku, berbicara hanya dengan bahasaku, dan bermain hanya dengan keinginanku. Aku adalah aku, dan hanya akan menjadi aku.

Dan mereka yang pernah kulibatkan dalam permainanku, juga yang pernah membuatku menerima permainan mereka, tentu hanyalah orang-orang yang layak saja. Aku tak tersenyum pada semua orang, juga tak berbicara pada semua orang. Tentu saja, semua sesuai dengan keinginanku... Hidup ini seperti bermain game bagiku. Terkadang aku mencari game, terkadang pula ada yang menawarkannya padaku. Tentu tak semuanya kumainkan, dan tak semuanya bisa kumenangkan. Ada yang game over karena kebodohanku, ada yang error lalu hang di tengah-tengah, ada pula yang kutinggalkan karena sudah tak berarti. Ada game yang hanya kumainkan beberapa menit saja, dan ada pula yang akan kumainkan seumur hidup. Ada game yang kumainkan dengan kacau, dan ada pula yang membuat aku rela mati karenanya. Dan tentu saja, semua itu masih tergantung pada keinginanku...

Friday, October 23, 2009

2009.10.23

Pria itu harus punya pandangan dan cita-cita. Menikah dengan seorang pria, berarti juga harus menikah dengan cita-citanya. Maka dari itu, menyukai seorang pahlawan itu mudah, namun untuk mencintainya itu sulit. Saat Yuji menikah dengan Xiang Yu, seharusnya sejak awal ia sudah siap untuk hal seperti kekalahan di Gaixia itu. Sebab jika tidak, ia tak ada bedanya dengan pelacur. Pahlawan itu bukan petani. Raja itu juga bukan pengembara. Para pendekar Liang Shan bukan tuan muda kaya yang punya banyak waktu untuk menemani kekasihnya berjalan-jalan di taman. Tak mungkin Lin Daiyu bersanding dengan Zhu Yuanzhang. Kecuali kalau hanya semalam. Jika tidak, pasti akan jadi drama air mata yang menggelikan. Tak dapat dipungkiri, dalam kisah-kisah fiksi ada percintaan seperti Yuwen Han dan Jing Jingli. Hingga sekarang pun aku tak habis pikir, apakah Jing Jingli yang terlalu egois, atau Yuwen Han yang hanya pahlawan gadungan, hingga melepaskan dunia untuk seorang wanita. Sering kukatakan, cinta itu tak sebanding kekacauan dunia. Hanya saja, pada kenyataannya, ia justru sering mengacaukan dunia. Ah, sudahlah... kurasa otakku mulai kacau lagi...

Monday, September 14, 2009

notitle 090913

jangan katakan untuk melupakan, apalagi memaafkan. sebab darahku masih di sini, mengalir dalam tubuhku. darah yang telah diturunkan lima ribu tahun lamanya. kelahiranku adalah kesalahan yang telah diperbuat oleh leluhurku. dan hidupku hanyalah untuk menjadi saksi atas kebiadaban bangsamu. bersyukurlah! sebab aku bukan pahlawan. bukan pula prajurit yang datang untuk menagih hutang darah di antara kita. namun begitupun, aku bukan seorang pengkhianat! tidak seperti sebagian kaumku yang mengakui bangsa lain sebagai nenek moyangnya, lalu meludahi dan mencampur-adukkan darah mereka. bersyukurlah! sebab aku ini hanya seorang penonton. aku tak akan mengobarkan api di kota-kotamu. tak akan menjarah dan membantai anak-anak serta wanitamu. bersyukurlah untuk itu! dan begitupun, aku bukan seorang pecundang, yang akan melupakan segala dendam di antara kita. sejarah itu ada, dan akan diturunkan hingga ribuan tahun lamanya. aku pun tak akan membantai kalian seperti saudara-saudara kalian telah membantai saudara-saudaraku. sebab aku tahu, dunia tidaklah buta. semuanya telah tercatat di mata segala bangsa. mereka telah melihat segala kebiadabanmu, dan akan selalu mengingatnya. maka tak perlu aku mengotori tanganku dengan darahmu. bersyukurlah untuk itu!

Friday, July 17, 2009

Membuatku muak saja....

"Mengapa para teroris melakukan hal semacam itu? Apa mereka tak punya rasa welas asih?" --- Menurutku, pertanyaan seperti itu sama saja dengan: "Mengapa orang gila itu telanjang di tengah jalan? Apa ia tak punya rasa malu?" --- Nah, jika kau bertanya seperti itu, rasanya aku harus mulai mengkhawatirkan otakmu. Kau tak bisa mengadili seekor anjing dengan hukum kerajaan kucing. Begitu pula, kau tak punya hak dan kuasa untuk mengharuskan semua orang punya pikiran yang sama denganmu, yang normal, baik, dan penuh rasa kemanusiaan (menurutmu). Dunia ini medan peperangan. Tak ada benar dan salah, tak ada baik dan jahat. Atas nama langit aku bersumpah, itu sungguh hanya perbedaan sudut pandang saja! Yang ada hanya menang, kalah, hidup, dan mati. Kau tak bisa menyalahkan musuh atas kematianmu. Kalau mau, salahkan saja dirimu sendiri yang kurang berkemampuan, tak becus membela diri. Atau yang lebih mudah lagi, salahkan saja takdir! Memang tragis rasanya, tapi apa boleh buat, dunia memang seperti ini; mau kau akui atau tidak, tetap seperti ini. Bukan berarti aku membela kejahatan. Ini bukan masalah berpihak pada siapa atau lebih menyukai yang mana. Ini hanya masalah membuka mata dan berpikir. Kalau kau mau dunia ini damai, tak ada perang, tak ada pertikaian, tak ada kesengsaraan, maka kukira kau hidup di tempat yang salah. "Kebaikan pada akhirnya pasti akan menang" --- Kalimat yang indah kan! Aku pun suka. Sayangnya itu hanya ada di layar televisi dan dalam buku kumpulan dongeng sebelum tidur. Aku pun berharap bisa hidup di dalamnya. Sayangnya, otakku melarang hal itu, nalarku berteriak bahwa ini masih di dunia nyata. Kurasa kau sudah cukup dewasa, seharusnya sudah pernah mempelajari sejarah. Sejak beberapa ribu tahun sebelum masehi, yang namanya kejahatan dan pertikaian itu selalu ada. Kalau tak percaya, baca saja sejarah (bukan dongeng anak)! Bahkan dinosaurus pun saling bertarung; yang pemakan daging, juga yang pemakan tumbuhan. Ini kan hukum alam! Kalau kau masih juga memimpikan dunia yang damai dan hanya berisi kebaikan saja, rasanya kau lebih baik pergi ke surga. Seperti yang kau percaya, di sana (katanya) ada kehidupan abadi yang sungguh baik. Yang pasti, dunia nyata ini tak cocok untukmu. Sebab kejahatan dan perang itu akan selalu ada. Selalu. Setidaknya sampai bumi berbenturan dengan benda langit lain dan hancur berkeping-keping, dan atau tak ada lagi makhluk hidup di atasnya. Sungguh buruk kedengarannya, tapi apa boleh buat, suka tak suka, memang begini kenyataannya.

Thursday, May 21, 2009

notitle 090521

Ujung langit dan batas lautan. Aku pernah berkata, itu bukanlah akhir segalanya. Namun aku tahu, segalanya tak pernah semudah menghunus pedang ataupun memaki takdir. Dunia itu luas. Mungkin ada yang berkata bahwa ia sempit, namun pada kenyataanya, terlalu banyak mimpi yang tak dapat diraih, terlalu banyak cinta yang tak dapat ditemukan. Sekali lagi, dunia ini terlalu luas. Dan aku tak punya sayap untuk mengarungi seribu gunung dan lautan. Sesungguhnya aku ini hanya seorang iblis yang tanpa sengaja meneguk arak cinta. Hingga menuliskan namamu di atas semua mimpiku. Hingga berharap untuk berkelana ke ujung dunia hanya untuk menjumpaimu. Tak pernah berharap untuk memiliki. Tak pernah pula memimpikan apa itu keabadian. Hanya saja terlalu merindukanmu. Terlalu ingin menuliskan kembali kisah tentang kita. Mengukirkan kembali nama-nama kita di atas sejarah. Aku tak tahu, apa di kehidupan ini kita masih dapat bertemu. Sungguh tak tahu. Aku ini hanyalah seekor ulat yang tak punya sayap, yang mencoba mengejar bintang dengan segala cinta dan kerinduannya.

Thursday, May 14, 2009

Mimpiku Yang Sesungguhnya

Waktu kecil, kudengar dunia persilatan itu berbahaya, hati manusia tak dapat diduga. Setelah dewasa, kulihat kerajaan itu hitam dan gelap, penuh dengan tipu muslihat. Harta, kuasa, nama, dan cinta. Sesungguhnya manusia hanyalah hewan serakah yang suka berpikir. Sebagian demi kenikmatan, sebagian lagi demi apa yang mereka sebut prinsip. Membandingkan apa yang mereka sebut benar dan salah, menandingkan apa yang mereka anggap asli dan palsu. Para ahli filsafat dan agama selalu punya waktu untuk itu. Ya, orang-orang keras kepala yang suka berbicara itu, mereka memang sering disebut bijaksana. Sedangkan para budak harta dan anjing tahta itu, lebih tak layak lagi untuk dibahas. Aku ini hanya seorang gadis bodoh, tak tahu apa-apa. Aku hanya tahu, sejak awal jaman, tak ada satupun kerajaan yang abadi, tak ada satupun manusia yang tak mati. Kaisar yang paling bijaksana maupun yang paling bodoh, semua berakhir di dalam makam. Pahlawan besar maupun penjahat terkenal, semua hanya tinggal nama dalam catatan sejarah. Tidak terkecuali. Apa itu benar? Apa itu salah? Apa itu baik? Apa itu jahat? Tak penting, sungguh tak penting. Apalagi surga dan neraka; apalagi kehidupan abadi setelah mati; itu juga hanya legenda yang tak pernah dapat dibuktikan keberadaannya. Sesungguhnya cita-citaku tidaklah begitu tinggi. Aku tak perlu mengukir nama di atas prasasti, juga tak mau hidup di tengah lautan harta. Sesungguhnya dalam kehidupan ini, aku hanya ingin.... melihat-lihat dengan mata kepala sendiri; melihat kehidupan, melihat kematian, melihat kemakmuran, melihat kehancuran. Bodohlah aku jika berharap bumi ini tak akan musnah. Naif pula jika berpikir negara ini akan bertahan ribuan tahun. Sesungguhnya mimpiku tidaklah berlebihan. Aku tak mau mengubah atau mempertahankan, bahkan memperebutkan apa pun. Dalam kehidupan ini, aku hanya ingin.... melihat-lihat dengan mata kepala sendiri; menjadi saksi atas sejarah, atas dunia dan segala perubahannya. Melihat-lihat, hanya itu....

Monday, May 4, 2009

notitle 090504

kau bilang,
angin yang berhembus itu akan membawa pergi cinta kita;
kau bilang,
jangan berkata untuk mengikutimu ke ujung dunia.

lalu malam tetap kelabu,
sungai tetap membiru,
dan lagu itu tetap tak menemukan bait terakhirnya;
kau tetap di ujung langit,
aku tetap di batas lautan.

tuan,
jika mencintaimu hanyalah sebuah mimpi,
maka jangan biarkan aku tersadar;
sebab aku hanyalah ulat di daratan,
yang terus berlari mengejar bintang;
tak peduli setinggi apa langit,
tak peduli seluas apa bumi.

Monday, April 6, 2009

Blog - Their Blog - My Blog - Me

Aku tak butuh teori-teori itu, yang berbau kesuksesan, yang berdalih kebijaksanaan, maupun yang bertopeng keTuhanan. Mereka hanya bisa membaca, memuja, berdecak kagum, lalu menyadur, atau bahkan menjiplak. Selalu banyak orang seperti itu. Menyadur ceramah-ceramah dari tokoh-tokoh (yang menurut mereka) sukses, lalu menggurui sesamanya. Juga yang membaca ayat-ayat kitab suci dengan wajah haru, lalu berceramah panjang lebar mengenai surga dan dosa. Dengan menyesal kukatakan, aku tak berminat dengan apa itu pengembangan diri, iman, moral, dan kiat-kiat kesuksesan. Persetan. Kau harus tahu, bukan salahku jika aku dilahirkan dengan jiwa pengembara. Pedagang, di mataku hanyalah budak-budak harta yang kotor dan hina. Buku-buku yang kau baca itu, setengah isinya adalah kiat-kiat untuk menipu orang, dan setengahnya lagi adalah untuk membuat bangkrut tetanggamu. Juga para pemuka agama, bagiku adalah iblis bertopeng malaikat, yang selalu mengatakan bahwa Tuhan mengasihi kita, dan kita harus mengasihi sesama, dan kita harus beramal, dan pahala kita besar di surga.... Aku tak pernah mengerti, kenapa mereka tak bilang saja langsung bahwa mereka butuh uang, seperempat untuk membangun rumah ibadah, seperempat untuk membantu fakir miskin, dan sisanya untuk bertamasya ke luar negeri. Para ahli filsafat.... ini yang paling memusingkan. Teori mereka indah seperti puisi, hanya saat dibaca pertama kali, dan jika kau baca lagi, kau bahkan tak tahu mantera dari bahasa apakah itu. Mereka pandai, terlalu pandai, juga terlalu bijaksana, sampai lupa akan dunia nyata. Itu sebabnya aku tak pernah memandang teori mereka lebih dari sepuluh detik. Orang-orang sukses bilang, aku ini miskin dan tak punya cita-cita. Tentu! Aku tak mau membuang waktu untuk kemewahan sesaat itu. Aku lebih cinta kebebasan. Orang-orang beriman bilang, aku ini kafir. Tidak kupungkiri, sebab walau bukan atheis, aku tetap tak terbiasa meminta pada yang tak terlihat, dan mengharap kue jatuh dari langit. Apalagi memimpikan hidup enak setelah mati. Bukan salahku kalau aku belum pernah mati. Jadi, mana aku tahu surga itu seperti apa. Para ahli filsafat bilang, aku ini orang bodoh, tidak bijaksana, tidak memahami apa arti kehidupan. Kuakui, aku memang tak pernah mengerti isi tulisan mereka. Nenek moyangku juga tidak mengerti, dan mereka bisa hidup serta berkembang biak dengan baik di dunia, tidak punah seperti jerapah berleher pendek. Kukira, mungkin ada yang kurang suka dengan isi tulisan ini. Tapi, apa yang bisa kau harapkan dari blog yang ditulis oleh orang sepertiku?

Wednesday, April 1, 2009

[Translation] Kisah

Ibu berkata, saat makan harus memegang sumpit dengan tangan kanan; di sekolah harus mendengarkan kata guru; harus belajar pada teman yang pandai; jika sakit harus berobat ke dokter; jangan pacaran di bawah umur; harus menghargai makanan; menghormati orang tua; menyayangi dan melindungi anak-anak; jangan dandan dan bercermin sepanjang hari; rambut jangan disemir kuning; jangan berpakaian yang aneh-aneh; kecantikan hati dan tingkah laku lebih penting dari apapun; harus menjaga kebersihan diri sendiri; jangan sembarangan melakukan hubungan * antara pria dan wanita (diistilahkan: jangan jadi sepatu butut); harus bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.... Apakah yang dikatakan ibu itu benar?

Sungguh benar apa yang dikatakan ibu, karena semua itu adalah moral adat tradisional bangsa Zhonghua. Asalkan itu adalah moral, maka semuanya adalah benar. Orang Zhongguo pun berkata, saat seratus orang mengatakan bahwa kau adalah monyet, kau akan segera memanjat pohon dan berayun di atasnya. Namun suatu hari, kita menemukan, atlet yang bermain dengan tangan kiri (kidal) menjadi juara dunia; anak-anak yang menurut pada guru, setelah dewasa disiksa suami sepanjang hari; sakit dan berobat ke dokter, lalu dokter akan membukakan resep yang satu kali harganya sama dengan gaji satu bulan; yang menghargai makanan tetap menghargai makanan, karena miskin, jadi tak mungkin tak menghargai makanan, dan saat kau sedang menghargai makanan, orang lain memberikan sirip ikan dan kura-kura yang tak habis dimakan kepada babi. Saat naik kendaraan umum, kau memberikan tempat duduk pada orang tua, dan orang tua itu segera duduk dengan tenang, lalu tak akan mengucapkan terima kasih. Kau menyayangi dan melindungi anak-anak, lalu anak-anak akan berkomplot, membentuk gank dan menindas anak keluarga lain. Gadis-gadis berpakaian aneh mendapat banyak sekali mawar pada saat valentine; yang sembarangan melakukan hubungan *, semuanya menikah dengan pria-pria kaya, naik mobil mewah dan "bersenang-senang dahulu". Yang "memakai sepatu butut" semua pergi menggaet pria, meninggalkanmu kesepian sendiri di kamar kosong.

Ibu sedang bercerita, hal-hal yang ada dalam cerita; yang dibilang benar adalah benar, salah juga tetap benar; yang dibilang salah adalah salah, benar juga tetap salah. Ya, jika kita berpikir dengan hati yang tenang, pasti dapat menemukan, di dunia ini tidak ada yang disebut "benar" ataupun "salah", tidak ada yang disebut "aturan", tidak ada yang disebut "peraturan". Karena baik dan jahat hanyalah ilusi yang ditimbulkan karena posisi dan keadaan yang berbeda. Aturan dan peraturan, adalah dinding segi empat yang dibangun untuk menjaga kepentingan dan kemajuan sebagian besar orang. Di dalam dinding segi empat ini, kita tak bisa melihat dunia luar, berjalan seiring waktu, matahari terbit dan terbenam, lahir, tua, sakit, lalu mati. Di dalam dinding segi empat ini, kita tak mengerti kebenaran, seringkali begitu saja melihat: polisi menerjang masuk, tentara bertank menerjang masuk, sepatu kulit menari, tongkat-tongkat dipukulkan; melihat pisau yang tajam menusuk, peluru menembus; kita melihat darah segar, melihat mayat, melihat peti mati, melihat air mata, melihat kepedihan, melihat kemarahan, melihat kebencian, dendam yang terus berputar dan berulang-ulang. Setiap hari kita dapat merasakan kematian, mendengar suara tembakan, orang-orang selalu meneriakkan: damai, damai, damai, patriotisme, patriotisme, patriotisme. Kedamaian dan patriotisme, adalah bunga matahari yang tumbuh di atas makam, carnation yang mekar di atas mayat. Saat mayat yang ditumbuhi carnation beserta bunga matahari didorong masuk ke dalam tungku kremasi dan terbakar menjadi abu; kita akan mendengar dari surat kabar, dari majalah, dari televisi, dari siaran radio, dari cerita-cerita, kita mendengar satu demi satu kisah-kisah tentang pembantaian dan patriotisme.

Hari berganti hari, berputar dan kembali berulang, terasa baru dan menarik, mengasyikkan dan tidak membosankan. Kita menjadi anak-anak yang lugu, duduk di samping tumpukan yang ini atau yang itu, mendengar kisah-kisah masa lalu dari paman yang ini atau kakek yang itu. Maka, tak peduli apakah kau orang besar ataupun kecil tak berarti, tak peduli miskin ataupun kaya, tak peduli apa kau cantik atau buruk rupa, tak peduli kau terhormat ataupun hina. Sesungguhnya, kita semua adalah anak-anak yang suka mendengar kisah, mendengar dan mendengar, berayun dan berayun, seperti mabuk. Tanpa disadari, kita pun menjadi tokoh dalam kisah. Kita semua hidup dalam kisah masing-masing, membedakan benar, salah, cantik, buruk, setia dan laknat dari sisi dan tingkah laku tokoh dalam kisah.

Taken From : Ghost Story Website
Original Story Title : Illusion Skill
Translated By : 风无形 (me lah! no 1 else here)

Wednesday, March 25, 2009

I am a DARK ANGEL & going to HELL

"Demon, Angel, or Other?"
You are both Ligth and Dark , Good and Evil You Do as you please and what you fell like doing

"Are You Going To Heaven.... or Hell?"
You know how to be a real bitch!!!! dont always do the right thing and have the bad ass reputation. But then again hell is just a really hot sauna...right?

dark angel? ok lah. itu jawaban yg sangat realistis & memuaskan. tapi yg kedua.... berarti pilihannya cuman heaven ama hell? ga ada tengah2nya gitu? ga seru banget! padal sejak kecil yakin seyakin-yakinnya bahwa ga ada manusia yg benar2 baik & ga ada manusia yg benar2 jahat. orang baik pasti punya sisi jahat & orang jahat pasti punya sisi baik. di dunia ini kan ga ada hitam yg benar2 hitam ato putih yg benar2 putih, adanya cuman warna abu2 yg berbeda-beda, ada abu2 gelap, ada abu2 terang, ada abu2 sedang, dst.... dengan kode hexa (ato RGB? ato apa itu namanya) yg berbeda-beda pula.... lalu kenapa cuman ada heaven & hell? ato mungkin seperti dalam buku, surga dibagi jadi 7 ato berapa itu (lupa) & neraka dibagi jadi 18 (nah, kalo neraka malah inget)? peduli amat lah! mau ke mana situ!
sesungguhnya iblis hanyalah anak-anak yang terluka
sedangkan malaikat adalah iblis-iblis bertopeng putih
jadi apa pedulimu?